Senin, 10 Mei 2010

Pemilu Di Filipina Diwarnai Kekerasan, 5 Orang Tewas

Manila,  - Pemilu Filipina yang digelar pada hari  ini dibayangi aksi kekerasan. Sehari menjelang pelaksanaan pemilu, Minggu, lima orang tewas dalam kekerasan yang melibatkan pendukung kandidat wali kota dan polisi di Pulau Panay tengah dan Mindanao selatan.


Kekerasan senjata meningkatkan kekhawatiran akan terulangnya kasus-kasus serupa pada saat pemungutan suara hingga penghitungan suara. Hari Senin ini, 50 juta pemilih akan mengalir ke TPS untuk memilih presiden, wapres, parlemen, dan pejabat (wali kota, gubernur) yang akan menempati 17.000 pos di negeri berpenduduk 94 juta jiwa itu.


Jubir kepolisian nasional, Inspektur Kepala Leonardo Espina, melaporkan, kekerasan akibat benturan kepentingan antarkandidat di tingkat lokal sudah meminta korban. Hari Minggu, polisi menembak mati 3 orang dan melukai 3 lainnya dalam bentrokan di Panay tengah.

Espina mengatakan, dua truk pikap yang mengangkut sekelompok orang bersenjata tiba-tiba onar saat melewati pos pemeriksaan polisi untuk mengamankan pemilu. Orang-orang bersenjata diduga pendukung salah satu kandidat wali kota.

Sebelum peristiwa itu, sekelompok orang yang diduga gerilyawan komunis menyita lima mesin penghitung suara di Panay dan membakarnya. Penjelasan itu disampaikan jubir KPU, James Jimenez.

Dua orang lagi tewas akibat tembakan balasan pasukan keamanan salah satu kandidat wali kota Malalag, Mindanao selatan. Korban tewas adalah pengawal calon bertahan Wali Kota Ruel Paras yang bentrok dengan para pengawal kandidat saingannya, mantan wali kota Jovil Mamaril.

Komandan kodim setempat, Letkol Lyndon Paniza, mengatakan, orang-orang bersenjata itu telah membunuh dua tentara yang ditugaskan mengawal Mamaril. Semua tersangka sudah diserahkan kepada polisi.

Mamaril dan Paras melakukan pawai keliling dalam kampanye di daerah yang sama sebelum bentrokan. Kepala kepolisian setempat, Inspektur Senior Ronald de la Rosa, mengatakan, aksi-aksi kekerasan itu mungkin semakin meningkat pada saat pemungutan dan penghitungan suara, bahkan mungkin hingga penetapan pemenangnya.

Konflik berdarah sejak lama menjadi bagian dari pemilu Filipina. Politisi biasanya memperalat milisi-milisi untuk menyingkirkan saingannya atau mengintimidasi pemilih. Terkait dengan Pemilu 2010 ini, sudah hampir 100 orang tewas. Pejabat militer dan polisi yang telah menyiagakan ribuan anggotanya untuk mengamankan Pemilu 2010 mengatakan, pemilu aman. ”Kami siaga penuh,” kata Espina.

Lebih dari 2.500 orang telah ditahan di seluruh negeri karena kepemilikan senjata api. Meski demikian, kekerasan masih terus mengancam Filipina.

Pertarungan di tingkat pusat, untuk posisi presiden dan wakil presiden, sangat ketat. Meski demikian, putra ikon prodemokrasi Filipina, Senator Benigno Aquino III, masih tetap paling diunggulkan dibandingkan capres lain, seperti presiden terguling Joseph Estrada dan Senator Manuel Villar yang dijuluki politikus terkaya di Filipina.

Capres kali ini penuh warna. Mulai dari petinju terbaik dunia (Manny Pacquiao), wanita pemilik 3.000 sepatu yang lari dari Malacanang (Imelda Marcos), Presiden Gloria Arroyo dan tersangka pembunuh massal (Andal Ampatuan), serta beberapa figur nyentrik dan kontroversial lainnya.

0 comments:

  © NUMPANG share template Newspaper Style by pak ELA

Back to TOP