Mila Karmila Lolos Dari Penculik Organ Tubuh Anak
![]() |
| Ilustrasi |
Mila yang diselamatkan warga sekitar tidak mengetahuidan mengingat persis dimana tempat penculikan dan wajah penculiknya. Begitu pengakuan Mila kepada Warga Tanjung Mulia yang pertama menemukannya.
Awalnya, Sari melihat seorang wanita mengenakan pakain putih berdiri dekat areal perkuburan. Karena takut, Sari memanggil warga lain, dan menemukan Mila dalam kondisi pingsan.
Mila menjelaskan meloloskan diri dari cengkeraman sindikat penculik setelah nekat melompat dari bus warna hitam, mirip bus sekolah, yang melaju pelan di sekitar Binjai Super Mall, Minggu pagi. Itu sebabnya tangan kirinya lecet. Lalu dia terus berlari dan menghentikan mobil ke arah Pinangbaris yang melintas.
''Saya masih belum lega sebab kawanan penculik tersebut masih terus mengejar hingga Pinangbaris. Sesampainya di Pinangbaris, saya langsung menyetop angkot ke arah rumah Simpang Dobi, Jl Platina I. Tapi penculik tersebut masih terus mengikuti. Sesampainya di Jalan Yos Sudarso KM 7 Tanjung Mulia, saya putuskan turun di sana,'' ujarnya di hadapan warga Tanjungmulia yang memenuhi kantor kelurahan malam itu. Mila mengaku kawanan penculik terus mengejarnya.
Dia memutuskan terus berlari hingga ke perkuburan Muslim Tanjungmulai, yang akhirnya ditemukan warga setempat. ''Saya bersembunyi di balik tempat penyimpanan keranda mayat. Setelah melihat kawanan penculik tidak lagi mengejar, saya menuju perumahan warga," katanya.
Delapan Mayat
Yang mengejutkan Mila menyebut saat diculik melihat sekitar delapan mayat anak yang disampingnya tidak ada bola matanya lagi. Usia anak tersebut diperkirakan tujuh hingga delapan tahun. Selain itu, Karmila juga melihat empat gadis yang seusianya yang juga diculik.
Namun dia mengaku tidak tahu pukul berapa melihat mayat anak tanpa bola mata tersebut lantaran gelap. Katanya, lokasi tempat mayat anak itu seperti berada di hutan. Paman Karmila, Warsono (42), yang ditemui Tribun di depan rumah korban, mengatakan ponakannya menghilang sejak Sabtu pekan lalu.
Ketika akan berangkat, Mila permisi kepada orangtuanya akan melamar pekerjaan yang dilihatnya dari koran ke arah Kampung Lalang, Medan Sunggal. Namun hingga Sabtu malam, keponakannya tidak pulang ke rumah. "Kami panik pada malamnya, Nirmala tidak juga pulang ke rumah. Dihubungi HP- nya tidak aktif," kata Warsono.
Warsono mengatakan ketika mereka akan melaporkan hilangnya Karmila ke polisi, Minggu malam, tiba-tiba warga Tanjungmulia datang ke rumah kakaknya memberitahukan ponakannya menjadi korban penculikan dan saat ini berada di Kantor Kelurahan Tanjungmulia, Medan Labuhan. ''Saya dan orangtua Karmila segera ke Kantor Lurah Tanjungmulia dan menemukan keponakan saya dalam kondisi tangan kirinya mengalami luka lecet,'' katanya.
Warsono mengatakan berdasarkan penuturan Karmila, kawanan penculik pertama kali menepuk pundaknya, saat berada di kawasan Kampunglalang. ''Sejak itu Karmila mengaku tidak sadarkan diri,'' katanya. Setelah itu, kawanan penculik mengambil KTP dan kartu Simpati milik Karmila.
Sekitar 20-an warga yang ingin menanyakan langsung informasi ini mendatangi rumah Mila, Senin pagi. Tapi mereka langsung balik kanan, setelah melihat rumah papan bercat kuning krim itu tertutup. Warsono mengatakan keponakan dan orangtuanya mengurung diri di dalam rumah.
Beberapa warga berjanji akan datang lagi. Mereka maklum korban masih trauma atas apa yang dilihatnya. Seorang perempuan yang ditaksir berusia 50-an tahun sempat keluar rumah mengusir wartawan yang menunggu di depan rumahnya, Senin pagi sekitar pukul 09.00 WIB.
Ternyata perempuan itu adalah ibu Karmila. ''Jangan kalian ke sini dulu. Masih trauma dia. Kalau mau datang dua atau tiga hari lagi,'' katanya dan kembali dalam rumah, mengunci pintu. Namun Warsono tak mau menanggapi keponakannya diculik sindikat penjual organ tubuh anak.
"Hanya saja katanya, ia berhasil lolos di Binjai, dan tangannya ada luka lecet seperti orang jatuh dari mobil," katanya. Namun hingga kemarin, pihak keluarga belum melaporkan kejadian yang menimpa keponakannya ke polisi. "Bukannya kami tak mau lapor kepolisi, capek lapor ke sana di-bola-bola nanti kami. Kami trauma bila melaporkan ke polisi," kata dia.
Ia mengatakan dalam kesehariannya, keponakannya normal seperti gadis seusianya. Setelah tamat dari Sekolah Yapim tahun ini, Karmila banyak di rumah dan mencari pekerjaan melalui koran. Senada, Ningsih, tetangga Karmila mengatakan selama ini, korban sibuk mencari pekerjaan.

0 comments:
Posting Komentar