Wikileaks Kembali Bocorkan Dokumen Rahasia diplomatik AS
Pengelola laman Wikileaks kembali membuat pemerintah Amerika Serikat(AS) resah. Setelah akhir juli kemarin mengungkap sejumlah dokumen militer Pentagon (Departemen Pertahanan) Amerikas Serikat tersebut.
Wikileaks akhir pekan lalu memaparkan dokumen - dokumen rahasia komunikasi diplomatik As dengan sejumlah negara. Menurut stasiun televisi BBC,minggu 28 November 2010,bocoran dokumen itu berupa data diplomatik yang diterima Washington dari Kedubes AS di sejumlah negara.
Data diplomatik tersebut merupakan laporan atas sejumlah sikap pemimpin-pemimpin negara atas isi yang tidak bisa dipublikasikan untuk kalangan umum. Selain Wikileaks, sejumlah media juga sudah turut mempublikasikan bocoran dokumen itu,diantaranya The New York Times dari AS dan surat kabar Guardian dari inggris.
Salah satu bocoran yang menarik adalah sikap pemimpin sejumlah Arab,termasuk Raja Abdullah yang menginginkan As agar menyerang Iran untuk mengatasi isu senjata nuklir. Wikileaks juga membocorkan laporan mengenai kekhawatiran diplomat atas materi nuklir Pakistan yang bisa digunakan sebagai bom atom,serta maraknya praktik peretasan jaringan komputer yang diduga merupakan dukungan dari pemerintah china.
Pemerintah AS khawatir bahwa publikasi terbaru dari Wikileaks tidak saja membahayakan keselamatan para diplomat AS di luar negeri. "Pengungkapan demikian menimbulkan risiko bagi diplomat kami, kalangan profesional intelijen, dan orang-orang lain di penjuru dunia yang datang ke AS terkait dengan upaya memperjuangkan demokrasi dan pemerintahan terbuka," demikian pernyataan Gedung Putih.
Namun pengelola Wikileaks, Julian Assange, mengatakan bahwa kekhawatiran itu menandakan bahwa pemerintah AS takut untuk dimintai pertanggungjawaban. Hingga kini, Wikileaks mengakui baru mempublikasikan 200 dari 251.287 data yang mereka peroleh dari sumber tertentu.
Wikileaks akhir pekan lalu memaparkan dokumen - dokumen rahasia komunikasi diplomatik As dengan sejumlah negara. Menurut stasiun televisi BBC,minggu 28 November 2010,bocoran dokumen itu berupa data diplomatik yang diterima Washington dari Kedubes AS di sejumlah negara.
Data diplomatik tersebut merupakan laporan atas sejumlah sikap pemimpin-pemimpin negara atas isi yang tidak bisa dipublikasikan untuk kalangan umum. Selain Wikileaks, sejumlah media juga sudah turut mempublikasikan bocoran dokumen itu,diantaranya The New York Times dari AS dan surat kabar Guardian dari inggris.
Salah satu bocoran yang menarik adalah sikap pemimpin sejumlah Arab,termasuk Raja Abdullah yang menginginkan As agar menyerang Iran untuk mengatasi isu senjata nuklir. Wikileaks juga membocorkan laporan mengenai kekhawatiran diplomat atas materi nuklir Pakistan yang bisa digunakan sebagai bom atom,serta maraknya praktik peretasan jaringan komputer yang diduga merupakan dukungan dari pemerintah china.
Pemerintah AS khawatir bahwa publikasi terbaru dari Wikileaks tidak saja membahayakan keselamatan para diplomat AS di luar negeri. "Pengungkapan demikian menimbulkan risiko bagi diplomat kami, kalangan profesional intelijen, dan orang-orang lain di penjuru dunia yang datang ke AS terkait dengan upaya memperjuangkan demokrasi dan pemerintahan terbuka," demikian pernyataan Gedung Putih.
Namun pengelola Wikileaks, Julian Assange, mengatakan bahwa kekhawatiran itu menandakan bahwa pemerintah AS takut untuk dimintai pertanggungjawaban. Hingga kini, Wikileaks mengakui baru mempublikasikan 200 dari 251.287 data yang mereka peroleh dari sumber tertentu.

0 comments:
Posting Komentar