Senin, 11 Oktober 2010

Warga Mulai Meninggalkan Wasior


Papua Barat,- Memasuki hari ketujuh pasca bencana banjir bandang yang menimpa ibu kota kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, Senin (4/10/2010) lalu, Wasior semakin sepi. Di tengah upaya pencarian dan evakuasi korban di sekitar Kota Wasior, semakin banyak penduduk yang mengungsi keluar Kota Wasior menuju Manokwari, Nabire dan lainnya .

"Banyak orang yang mengungsi keluar kota Wasior karena trauma yang mendalam. Rumah-rumah masih mengalami kerusakan, air bersih sangat terbatas. Belum lagi hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir ini di Kota Wasior. Akibatnya, kota ini semakin lama semakin sepi.

Imbauan pemerintah agar korban banjir longsor di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat, tetap bertahan dan berusaha membangun kembali kehidupan di tempat tersebut tidak efektif. Gelombang eksodus warga, terutama kaum ibu dan anak-anak, tak terbendung. Mereka memilih mengungsi keluar dari Wasior, menuju Manokwari, ibu kota Papua Barat, dan daerah lain.

Alasan mereka mengungsi, antara lain, karena trauma akan bencana yang telah meluluhlantakkan tempat tinggal serta tempat usaha mereka selama ini. Selain itu, warga juga masih dihantui ketakutan akan terjadi banjir bandang susulan karena cuaca di Wasior sepanjang Minggu (10/10/2010) berkabut tebal dan hujan.

Komandan Kodim 1703 Manokwari tersebut menambahkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana Papua Barat telah menyediakan lokasi pengungsian di Markas Kodim dan Balai Latihan Kerja Manokwari.

Kemarin, Wasior terasa semakin sepi di tengah upaya pencarian dan evakuasi korban. ”Rumah-rumah mereka masih rusak. Air bersih sangat terbatas. Belum lagi hujan (terus) turun dalam beberapa hari terakhir ini,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah Velix Wanggai, saat menghubungi Kompas di Jakarta, menceritakan kondisi terakhir Wasior.

Ia menambahkan, jumlah warga yang mengungsi mencapai 4.373 jiwa—dari sekitar 7.000 penduduk. Sebanyak 2.283 pengungsi berada di Kabupaten Teluk Wondama, 1.859 orang di Manokwari, dan 233 orang menuju Nabire. ”Minggu (kemarin) ini KM Ngapulu yang bersandar di Pelabuhan Wasior mengangkut sekitar 2.000 penumpang yang mengungsi dari Wasior ke Manokwari,” ujarnya.

Edward Sitorus khawatir rumah-rumah yang ditinggal penduduk dijarah pihak yang tidak bertanggung jawab. Untuk itu, katanya, pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk melakukan patroli.

”Tapi ada kendala. Akses jalan terputus dan gelap gulita (tak ada penerangan listrik pada malam hari). Hal itu membuat kami tak dapat berbuat banyak,” ujarnya.

Beberapa hari terakhir ini terlihat ada beberapa penggalian sepeda motor yang tertimbun lumpur. Penjarahan dilaporkan terjadi di rumah M Idrus, warga Masabui I. Menurut Idrus, ia kehilangan harta bendanya saat mengungsi ke rumah familinya. ”Pintu rumah dibongkar dan semua barang di rumah diambil,” ujarnya.

Dari pantauan Kompas, evakuasi jenazah korban banjir longsor kemarin tidak dapat dilakukan karena cuaca buruk. Hujan seharian menyebabkan pencarian yang hanya mengandalkan kekuatan manusia tak menghasilkan sesuatu yang berarti. Alat berat yang tersedia dikerahkan untuk membersihkan jembatan Kali Anggris dari batang-batang kayu berukuran besar.

Meski demikian, menurut Velix, Bandar Udara Wasior telah dibersihkan dari lumpur sehingga pesawat Caravan atau jenis Twin Otter dapat mendarat di Wasior.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, jumlah korban tewas 144 jiwa, korban hilang 123 orang, dan luka-luka berat 2.000-an warga. Sebanyak 181 orang dirujuk ke rumah sakit di Manokwari, Nabire, Makassar, dan Jakarta.


Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan, sesuai dengan permintaan Pemerintah Provinsi Papua Barat, sebagai awal bantuan, kemarin, didrop beras sebanyak 2 ton di posko pengendali untuk korban bencana di Wasior.

Beras bantuan dalam bentuk cadangan beras pemerintah sebanyak 35 ton, lanjut Sutarto, mulai 9 Oktober diangkut dengan kapal laut dari Kabupaten Manokwari ke Wasior. Pengiriman beras itu merupakan tahap I, sesuai dengan kapasitas angkut. Untuk tahap II akan dikirim 50 ton.

”Mulai 5 Oktober, personel Bulog ikut serta dalam tim relawan Pemprov Papua Barat di Wasior,” katanya.

0 comments:

  © NUMPANG share template Newspaper Style by pak ELA

Back to TOP