Jenazah Korban banjir Di Wasior Akan Dimakamkan Secara Massal
Wasior,- Dua jenazah baru korban banjir bandang di Kampung Senduai, Wasior, Papua Barat,berhasil di evakuasi oleh tim SAR, Senin (11/10). Tim berhasil menelusuri lokasi kedua jenasah berkat laporan dari keluarga yang merasa kehilangan sanak saudara mereka. Satu jenazah berjenis kelamin wanita sementara satu lagi berjenis kelamin pria. Setelah berhasil dievakuasi rencananya kedua jenazah ini akan dimakamkan secara massal di dekat lokasi penemuan mayat.
Evakuasi sempat mengalami kendala karena tumpukan lumpur yang tebal dan kayu-kayu besar yang menutupi tubuh para korban yang tertimbun. Minimnya alat sensor pencari jenasah, luasnya wilayah dan kesulitan bahan bakar minyak juga menjadi kendala yang dialami oleh tim evakuasi. Kendati demikian, pesawat pembawa bantuan hingga kini masih terus berdatangan.
Sementara itu, petugas dari pasukan pengawal presiden (paspamres) juga telah mulai beradatangan. Jika tidak ada aral melintang, Presiden SBY rencananya akan mengunjungi penampungan korban banjir dan lokasi danau yang meluap di Wasior, Kamis (14/9) mendatang.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga kini bencana banjir bandang yang menghantam distrik Wasior tersebut telah merenggut korban 145 orang tewas, 179 luka berat, 641 luka ringan, dan 103 orang hilang.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Papua Barat Marthin Luther Rumadas membantah jika bencana banjir di Wasior disebabkan ilegal loging. "Tak ada penebangan hutan di sini," kata Marthin, Senin (11/10) pagi.
Penegasan Marthin sekaligus membantah pernyataan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan yang menyatakan bahwa banjir di Wasior disebabkan praktik ilegal loging. "Ini murni peristiwa alam. Kayu yang ditemukan bukan hasil potongan ilegal loging. Ada akar-akarnya," ujar Marthin.
Marthin juga menengaskan tak ada banjir susulan di Wasior, meski hujan masih turun. Pemprov Papua Barat saat ini fokus pada penanganan pengungsi. Rencananya bakal dibuat hunian sementara di Manokwari dan Nabire untuk para pengungsi asal Wasior.
Evakuasi sempat mengalami kendala karena tumpukan lumpur yang tebal dan kayu-kayu besar yang menutupi tubuh para korban yang tertimbun. Minimnya alat sensor pencari jenasah, luasnya wilayah dan kesulitan bahan bakar minyak juga menjadi kendala yang dialami oleh tim evakuasi. Kendati demikian, pesawat pembawa bantuan hingga kini masih terus berdatangan.
Sementara itu, petugas dari pasukan pengawal presiden (paspamres) juga telah mulai beradatangan. Jika tidak ada aral melintang, Presiden SBY rencananya akan mengunjungi penampungan korban banjir dan lokasi danau yang meluap di Wasior, Kamis (14/9) mendatang.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga kini bencana banjir bandang yang menghantam distrik Wasior tersebut telah merenggut korban 145 orang tewas, 179 luka berat, 641 luka ringan, dan 103 orang hilang.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Papua Barat Marthin Luther Rumadas membantah jika bencana banjir di Wasior disebabkan ilegal loging. "Tak ada penebangan hutan di sini," kata Marthin, Senin (11/10) pagi.
Penegasan Marthin sekaligus membantah pernyataan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan yang menyatakan bahwa banjir di Wasior disebabkan praktik ilegal loging. "Ini murni peristiwa alam. Kayu yang ditemukan bukan hasil potongan ilegal loging. Ada akar-akarnya," ujar Marthin.
Marthin juga menengaskan tak ada banjir susulan di Wasior, meski hujan masih turun. Pemprov Papua Barat saat ini fokus pada penanganan pengungsi. Rencananya bakal dibuat hunian sementara di Manokwari dan Nabire untuk para pengungsi asal Wasior.

0 comments:
Posting Komentar