Keluarga Korban Bentrokan Di PN Jakarta Selatan Menolak Otopsi
Jakarta,- Salah satu keluarga korban tewas dalam bentrokan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan mendatangi kamar jenazah RS Polri. Mereka menolak otopsi yang akan dilakukan petugas dan berniat langsung mengambil jenazah korban.
"Lebih baik jangan diotopsi karena rasa sayang kepada adik. Kami tidak ingin badannya dibedah-bedah," kata Pieter Thomasoa di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis, 30 September 2010.
Pieter yang datang bersama beberapa anggota keluarga lain ingin mengambil jasad Agustinus Thomasoa. Dalam bentrokan menyangkut perkara di klub malam Blowfish itu, selain Agustinus, dua orang lainnya juga tewas dengan luka mengerikan. Sementara itu, satu lainnya masih kritis, tiga anggota Polri dan delapan lainnya luka-luka.
Keluarga meminta jika otopsi harus dilakukan, mereka turut hadir menyaksikan pembedahan. "Kalaupun harus ada, harus ada pihak keluarga dan polisi yang melihat itu. Bila ada peluru, di bagian itu saja yang diangkat untuk dikeluarkan menjadi barang bukti," kata pria yang tinggal di Cibitung, Bekasi ini.
Peristiwa ini membuat syok keluarga besar Pieter, apalagi mendengar kabar bahwa Agustinus yang tinggal di Kramat Jati itu, tewas mengenaskan. Menurut data Polri, Agustinus tewas akibat luka parah di bagian belakang kepala. "Kami dari keluarga pasrah saja," kata Pieter.
"Lebih baik jangan diotopsi karena rasa sayang kepada adik. Kami tidak ingin badannya dibedah-bedah," kata Pieter Thomasoa di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis, 30 September 2010.
Pieter yang datang bersama beberapa anggota keluarga lain ingin mengambil jasad Agustinus Thomasoa. Dalam bentrokan menyangkut perkara di klub malam Blowfish itu, selain Agustinus, dua orang lainnya juga tewas dengan luka mengerikan. Sementara itu, satu lainnya masih kritis, tiga anggota Polri dan delapan lainnya luka-luka.
Keluarga meminta jika otopsi harus dilakukan, mereka turut hadir menyaksikan pembedahan. "Kalaupun harus ada, harus ada pihak keluarga dan polisi yang melihat itu. Bila ada peluru, di bagian itu saja yang diangkat untuk dikeluarkan menjadi barang bukti," kata pria yang tinggal di Cibitung, Bekasi ini.
Peristiwa ini membuat syok keluarga besar Pieter, apalagi mendengar kabar bahwa Agustinus yang tinggal di Kramat Jati itu, tewas mengenaskan. Menurut data Polri, Agustinus tewas akibat luka parah di bagian belakang kepala. "Kami dari keluarga pasrah saja," kata Pieter.

0 comments:
Posting Komentar