Polri Nekad LImpahkan Berkas Ba'asyir Ke Kejaksaan
Jakarta,- Dalam perkara Abu Bakar Ba'asyir Mabes Polri bergerak cepat. Tersangka terorisme, yang juga pimpinan Jama'ah Ansharut Tauhid (KAT), sudah diperiksa berkali-kali semenjak ditangkap, Senin, 9 Agustus 2010. Kecuali menjawab data pribadi, Ba'asyir sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan para penyidik seputar aktivitasnya.
Penyidik tentu saja kesulitan, tapi Mabes Polri akan nekat melimpahkan berkas pemeriksaan itu ke kejaksaan, walau tanpa keterangan dari Ba'asyir.
"Kalau penyidikan selesai tanpa ada Berita Acara, ya kita kirim berkasnya," kata Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Polisi Edward Aritonang di Mabes Polri, Jakarta, Jum'at 13 Agustus 2010.
Mabes Polri, lanjut Edward, menghargai sikap diam Ba'asyir, dan akan menyiapkan segenap alat bukti yang ada. Penyidik sudah memiliki alat bukti yang kuat dan keterangan sejumlah saksi kunci.
Ba'asyir ditangkap Detasemen Khusus 88 Anti Teror pada 9 Agustus lalu di Banjar, Jawa Barat. Mantan amir Majelis Mujahidin Indonesia itu dituding mendanai pelatihan militer teroris di Aceh.
Jaringan teroris di Aceh itu berkaitan dengan kelompok Pamulang, yang digrebek Densus 9 Maret 2010. Dalam penyeragapan di Pamulang itu, Dulmatin yang disebut Mabes Polri sebagai tersangka sejumlah aksi teror di Asia Tenggara, tewas ditembak.
Akan halnya perburuan di Aceh. Mabes Polri mengerahkan ratusan polisi dan Densus mengepung markas pelatihan kelompok teroris, yang dituding polisi didanai Abubakar Ba'asyir. Operasi penyergapan itu bahkan diikuti oleh Irwandi Yusuf, mantan ahli Strategi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kini menjadi Gubernur Nangroe Aceh Darrussalam (NAD).
Irwandi yang pada saat menjadi salah satu petinggi GAM memiliki banyak informan di wilayah Aceh, menuturkan bahwa kelompok itu diamati semenjak tahun 2009. Mereka, kata Irwandi, mungkin menyusup ke sukarelawan ke Palestina.
Semua tuduhan itu disangkal oleh Abu Bakar Ba'asyir. Di Mabes Polri, pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo, Jawa Tengah itu memilih diam daripada menjawab serangkaian pertanyaan dan tuduhan penyidik.
Bantahan yang lebih terang datang dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Mereka dengan tegas mengatakan pelatihan militer di Aceh itu bukan gerombolan teroris, melainkan kamp latihan untuk mujahid ke Jalur Gaza di Palestina.
0 comments:
Posting Komentar