Pasta Wayang Nia-Ardi Bakrie Memalukan, Rakyat Tidak Terlihat Antusia Menghadirinya
Ingin mengikuti perkawinan gaya kerajaan zaman dahulu kala, dengan mengadakan pesta rakyat semalam suntuk, ternyata pesta pernikahan Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie itu, tidak disambut gembira oleh rakyat, padahal spanduk sudah dipasang dimana-mana.
Pesta rakyat? Lucu juga kedengerannya. Mereka itu siapa? Raja bukan, penguasa bukan. Lalu siapa rakyatnya? Kok, tidak malu-malunya mengadakan pesta rakyat? Mungkin karena merasa diri orang kaya dengan uang berlimpah mereka berpikir sudah bisa membeli rakyat dengan pesta. Mungkin juga karena orangtua pengantin pria sudah merasa memiliki rakyat dengan keudukannya sebagai Ketua Umum Partai Golkar? Sebuah pesta yang memalukan.
Mereka seharusnya tahu bahwa rakyat saat ini tidak butuh pesta, rakyat hanya butuh makan. Pesta itu adalah pesta penghinaan terhadap rakyat, karena masyarakat tahu bahwa ribuan orang terkapar akibat lumpur Lapindo oleh ulah perusahaan milik Bakrie.
Apa buktinya bahwa rakyat tidak suka? Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie menggelar pesta rakyat di Parkir Timur Senayan, Jakarta Selatan. Namun, warga sekitar sepertinya kurang antusias. Pesta itu pun tidak seramai acara resepsi mereka.
Di Parkir Timur Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (3/4/2010), pukul 21.00 WIB, pesta yang menampilkan pagelaran wayang kulit itu hanya dihadiri kurang dari 500 orang. Bahkan masih banyak bangku yang terlihat kosong.
Hal itu pun berbeda dengan acara resepsi yang digelar Nia dan Ardi di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (2/4/2010). Lebih 3500 undangan hadir di acara itu.
Menghadiri pagelaran wayang kulit itu, Nia dan Ardi pun terlihat kompak dengan busana serba abu-abu. Aburizal Bakrie pun terlihat ikut mendampingi mereka. Saat baru tiba, Nia dan Ardi langsung disambut warga. Mereka pun berusaha menyalami pasangan tersebut.
Acara wayang itu berlangsung setelah menggelar acara resepsi di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (2/4/2010). Sebuah pagelaran wayang kulit semalam suntuk akan digelar di Parkir Timur Senayan, Jakarta Selatan mulai pukul 20.00 WIB. Dengan lakon 'Wisanggeni Lahir', Ki Anom Suroto pun telah didapuk sebagai dalangnya. Sementara, Gareng akan menjadi bintang tamunya.
Berbagai makanan, antara lain kacang dan umbi-umbian dipastikan akan terus mengalir untuk menjamu para penonton yang datang. Kabarnya, pesta rakyat itu menelan biaya hingga Rp 300 juta.
Mengapa ada wayang? Diperoleh informasi, wayangan itu sebelumnya tidak masuk agenda perayaan pernikahan Nia dan Ardi. Wayangan itu merupakan ide mendadak. Aburizal Bakrie yang bukan orang Jawa itu tertarik menggelar acara itu setelah Golkar sukses menggelar wayangan. Mungkin sudah merasa berkuasa atas rakyat dengan harta dan kekeyaannya.
0 comments:
Posting Komentar